IMAM SAMUDRA AKU MELAWAN TERORIS PDF

Aku ingin segera selesai sekolah dan mencari kerja untuk mendapatkan ongkos ke Afghanistan. Tapi ya bagaimana, untuk beli perangko kartu lebaran dan buku diary untuk kukirim ke Ketua OSIS-ku saja, aku harus menjebol tabunganku hasil beasiswa dari Depdikbud waktu itu. Ketua OSIS-ku waktu itu, kini menjadi Perdana Menteri di kerajaan tentara dan mata air di surga nama putraku berarti Tentara Allah, dan nama putriku berarti mata air di surga. Dan yang menjadi Kaisar atau Rajanya adalah Imam Samudra. Tiga tahun kemudian doaku terkabul.

Author:Dourisar Gugami
Country:Iceland
Language:English (Spanish)
Genre:Education
Published (Last):20 December 2005
Pages:121
PDF File Size:8.91 Mb
ePub File Size:20.28 Mb
ISBN:298-1-59480-229-1
Downloads:11458
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Vozshura



Aku ingin segera selesai sekolah dan mencari kerja untuk mendapatkan ongkos ke Afghanistan. Tapi ya bagaimana, untuk beli perangko kartu lebaran dan buku diary untuk kukirim ke Ketua OSIS-ku saja, aku harus menjebol tabunganku hasil beasiswa dari Depdikbud waktu itu.

Ketua OSIS-ku waktu itu, kini menjadi Perdana Menteri di kerajaan tentara dan mata air di surga nama putraku berarti Tentara Allah, dan nama putriku berarti mata air di surga. Dan yang menjadi Kaisar atau Rajanya adalah Imam Samudra.

Tiga tahun kemudian doaku terkabul. Saat itu juga aku berjumpa dengan seseorang bernama Jabir syahid dalam peristiwa bom Antapani Bandung. Dengan bahasa Indo-Sunda, kami berkenalan. Kemudian entah bagaimana ceritanya, pembicaraan saat sampai pada topik jihad.

Kuceritakan buku-buku jihad yang pernah kubaca, ia nampak interes dan antusias. Insya Allah kalau antum ikhlas, Allah akan memudahkan urusan antum. Segera aku pamit dan kembali ke rumah. Ada sedikit sisa tabungan hasil kirim artikel berita ke Panji Masyarakat ditambah pemberian ibunda tercinta.

Aku tak terlalu enak meminta uang dari ibuku, tapi apa boleh buat, setelah aku nyatakan bahwa aku akan ke luar negeri, beliau memberikan uang yang aku perlukan. Uang itu hasil usaha menjual jilbab dan busana muslimah yang kadang-kadang kubantu mencarikan bahan-bahannya di Tanah Abang, Jakarta.

Jumpa lagi sekitar tiga hari berikutnya dengan Kang Jabir. Setelah mendapatkan paspor Jakarta dalam minggu yang sama, kami ke Dumai dan bermalam sehari. Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan ke Malaka, Malaysia.

Tidak sedikit mereka yang ditolak oleh imigrasi Malaysia, sekalipun mereka melengkapi dengan dokumen resmi dan uang tunjuk uang jaminan selama tinggal di Malaysia. Tinggal sehari lebih sedikit di Malaysia. Lupakan itu. Sambil mengisi waktu 8 jam flight KL-KHI Kuala Lumpur-Karachi , kutulis sekeping post card kepada satu-satunya wanita —selain ibu dan saudariku— yang pernah singgah dan akhirnya menetap dalam kehidupanku.

Kalau tak salah post card itu ditulisi dengan terjemahan surat Al-Baqarah ayat Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang padamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Alhamdulillah, dengan takdir Allah, paid stamp post card itu akhirnya sampai juga ke tangan Sang Mantan Ketua OSIS, yang kuketahui beberapa saat menjelang pernikahan kami, Sehari semalam, kami bermalam di maehmon khana ruang tamu sebuah masjid Karachi.

Perjalanan dilanjutkan ke Peshawar pada awal pagi. Sampai saat ini aku tak tahu apa nama daerah itu, sebuah rumah gaya Paki-Afghan yang sangat sesuai dengan syariat Islam. Tinggal sehari di situ. Sepanjang perjalanan aku yang mengenakan pakaian Afghanis dan menutup seluruh wajahku kecuali mata dengan menggunakan ridah selimut tipis , tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Sekali bicara, orang akan tahu siapa aku. Perjalanan sepenuhnya dipimpin oleh Syahid Jabir dan dua orang Arab yang sampai saat ini tak kukenal darimana dan siapa namanya. Menjelang Ashar, dengan berjalan kaki dari perbatasan Pakistan-Afghanistan selama hampir 4 jam, sampailah kami di sebuah camp sederhana yang terkenal dengan sebutan, Muaskar Khilafah.

Di situ aku memulai kehidupan yang sama sekali baru dan sangat baru. Tiada suara wanita, tiada tangis anak kecil, apalagi musik-musik jahiliyah, panggilan setan. Tidak ada seorang pun yang berani datang ke tempat itu kecuali ia benar-benar siap menggadaikan nyawanya di jalan Allah. Tidak ada seorang pun bertahan lama di situ kecuali jika ia telah siap bertarung melawan kaum kafir, baik komunis asli Uni Soviet ataupun komunis northern sebangsa Dustum —yang kini berkoalisi dengan Si Karzai di bawah ketiak Amerika dan para pengecut sekutunya.

Dan kesiapan mental seperti itu, hanya akan terwujud dengan rahmat dan takdir Allah. Khost, nama tempat itu. Daun-daun zaitun masih kekal bertahan. Daun-daun caparkat dan cactus Afghan telah luruh, tinggallah duri-duri dan kayunya yang kelak dibakar untuk kayu penghangat dan pemasak. Anor delima tak lagi berbuah, runtuh sudah daun-daunnya. Saghol serigala melolong di tengah malam. Selapis jaket mesti dikenakan. Begitulah keadaannya saat pertama kali aku tiba.

Ya, saat itu musim gugur telah tiba. Purnama kelima dari saat awal aku tiba telah menjelma. Musim gugur hilang sudah. Datanglah penggantinya. Afghanistan menggigil. Satu ketika sepulang belajar, saat aku berbaring di dekat room heater, suara keras bertubu-tubi menimpa atap tendaku, persis seperti bunyi lemparan benda keras. Dan… pletak! Sebongkah benda menjitak kepalaku. Dingin rasanya. Jernih warnanya. Es, nama benda itu… Kemudian baru kutahu kalau baraan itu artinya hujan.

Subhanallah…, Salju…, salju…! Jika dulu aku suka hujan-hujanan di kampung halaman, maka saat itu aku salju-saljuan. Segera aku melompat keluar tenda menyambut kapas demi kapas salju yang terjun dari pintu-pintu langit. Saudara-saudara Afghan dan Arab hanya cengar-cengir dan cengengesan melihat polahku, tapi aku tak peduli.

Ya, di negeriku tidak ada salju. Yang ada hanyalah hujan air, dan setelah itu lahirlah banjir. Menjelang delapan pagi, saat akan memulai rutinitas, gunung-gunung di sekitar kami telah berselimut salju. Puncaknya begitu indah, hampir sama dengan gambar iklan Hazeline Snow. Di sekeliling kami tanah yang dulu berwarna coklat kini memutih, begitu juga pepohonan dan bebatuan. Aku sendiri tak pernah mengukur. Yang jelas, orang sekurus aku mengenakan sekitar 5 lapis pakaian, dan kadang-kadang 6 lapis jika ditambah jaket wool ala Eropa.

Khost bukanlah kampus biasa. Bukan kampus orang-orang Eropa atau Amerika yang mengisi kehidupan mereka dengan segala kemaksiatan dan kemewahan dunia.

Jika mereka kuliah, hanyalah demi kepentingan dunia semata. Khost adalah sekeping tanah di bentangan-bentangan bumi. Sewaktu-waktu, kapan saja, musuh bisa menyerang, menghantar mortar, memuntahkan peluru, lalu terjadilah pertempuran seru. Ajal memang di tangan Allah.

Tapi di Khost dan front-front jihad lain di Afghanistan kematian terasa begitu dekat. Musuh ada di segala arah. Maut sewaktu-waktu akan menjemput. Waspada tetap waspada. Main salju bagiku terlalu indah, subhanallah. Umurku saat itu baru menjelang dua puluh. Masih ada tersisa rona-rona jahiliyah. Masih ada guratan-guratan kenangan lama. Tanggal dan harinya lupa sudah. Tetapi yang jelas di malam hari, langit begitu cerah, gemintang begitu indah menantang.

Di sebelah baratnya ada kota bernama Kalideres, diteruskan lagi ke arah barat. Satu jam kemudian kan tiba di terminal yang disebut Ciceri. Berjalan saja ke utara yang sekitar meter. Maka tibalah di sebuah tempat bernama Cinanggung. Ada sebuah rumah, Blok F …. Duh, ternyata di situlah rumah seorang wanita yang tempo hari kukirim postcard. Segera kusebut asma-Nya, ada apa ini? Segera kuambil teko kecil berisi air hangat, lalu aku berwudlu, shalat dua rakaat, berbaring.

Malam begitu panjang, mata sukar terpejam. Dengan saghol-saghol, dengan atap tenda, atau dengan siapa? Ternyata tidak ada. Refleks goresan jahiliyahku kembali timbul. Running text, penggalan syair Ebiet G. Ade pun berkelebat, katanya: Banyak cerita yang mestinya kau saksikan… Sayang kau tak duduk di sampingku kawan… Laa ilaha illallah.

The seven brother, rangkaian rasi yang terdiri dari 7 bintang telah mengambil posisinya. Waktu sahur telah tiba, ikhwan-ikhwan yang lain segera kubangunkan. Beberapa potong daging, sedulang nasi minyak Afghanis, 4 sobek roti nan dan sambal kentang yang telah kuhangatkan segera kusajikan.

Malam itu memang giliranku sebagai penyaji sahur.

GUITARRA FACIL CANCIONEROS PDF

IMAM SAMUDRA AKU MELAWAN TERORIS PDF

Daigis This single location in Western Australia: Terlepas dari benar-tidaknya tindakan penulis, sebagaimana ambivalensi institusi pengadilan negeri ini dalam mengadili para pelaku Bom Bali, AMT setidaknya bisa menjadi referensi alternatif untuk mengimbangi pemberitaan kasus Bom Bali versi Polri dan media massa pada umumnya. Aku melawan teroris! Separate different tags with a comma. Apr 30, Raden Bima Drian rated it really liked it. Drawing upon trroris Theatre of the Oppressed, villagers with disabilities have an opportunity to express themselves.

DOCWIN 3.0 PDF

Imam Samudra

.

Related Articles